Ini nih ..yang menyebabkan Oli cepat rusak
Posted in June 18th, 2011 by admin-14/06-011 | Filed under Ini Dia Nih | Comments (0)
Banyak orang awam beranggapan bahwa menurunnya mutu oli di dalam mesin kendaraan, lebih dominan disebabkan oleh faktor tekanan dan gesekan piston dalam mesin kendaraan . Padahal kondisi mutu oli dalam mesin kendaraan tidak hanya dipengaruhi faktor diatas. Ada faktor lain yang mesti diperhatikan, yang ikut berpengaruh pada mutu oli dalam mesin , yaitu: faktor cara berkendara dan kondisi lalu lintas yang sering dilalui.
Hal ini mungkin sering luput dari perhatian orang awam atau bahkan hal yang sering dianggap salah kaprah dalam menilai kondisi oli dalam mesin kendaraan. Misalnya, masyarakat awam sering menganggap kalau kondisi oli dalam mesin kendaraan yang jarang dipakai atau dipakai tapi cuma jarak dekat, oli mesin kendaraan tersebut selalu dalam kondisi bagus. Sebaliknya, kendaraan yang sering dipakai rutin lewat jalan tol atau jarak jauh ke luar kota , kondisi olinya lebih cepat menurun mutunya dan mesti lebih cepat diganti.
Dalam ilmu Pelumasan dikenal 2 istilah, kondisi dan cara berkendara yang mempengaruhi kondisi mutu oli dalam mesin, yaitu:
1. “Severe Service”. Secara umum dapat diartikan, cara dan kondisi pemakaian kendaraan yang menyebabkan mutu oli cepat rusak. Faktor penyebabnya antara lain:
– Sering berkendara Stop & go driving (Kondisi macet)
– Sering berkendara hanya jarak pendek (< +20 km)
– Sering mengangkut beban berat/penumpang banyak.
– Kondisi polusi tinggi dan berdebu.
– Kelembaban tinggi .
2.“Normal Service” . adalah cara pemakaian kendaraan yang rutin pada jarak yang relatif jauh dan lancar dalam
sekali jalan.
Kondisi “Severe Service” sebenarnya bukanlah hal yang asing bagi pemilik kendaraan di Jakarta. Setiap hari, kondisi macet, polusi, berdebu, dsb. sudah menjadi langganan sehari-hari. Lalu kenapa Tipikal berkendara model begini, lebih cepat menyebabkan oli mesin menurun mutunya? Jawabannya sederhana… air. Ya , air adalah senyawa yang bertanggung jawab dalam mempercepat rusaknya mutu oli mesin. Terutama adalah aditif oli mesin. Padahal aditif itu merupakan komponen paling penting pada oli mesin. Air dalam oli mesin tidak boleh lebih dari 0.2% wt. Air bisa terakumulasi dalam mesin karena faktor kondensasi atau hasil proses pembakaran. Proses pembakaran sempurna senyawa hidrokarbon akan menghasilkan gas karbon dioksida dan air. Dan kondisi di Indonesia, yang relatif tinggi polusi dan kelembabannya, ikut mendukung menciptakan kondisi “Severe Service” ini. Selain air, bahan bakar yang masuk kedalam mesin, juga ikut berperan dalam mempercepat rusaknya oli. Bahan bakar biasanya menyusup kedalam mesin karena proses pembakaran “campuran kaya bahan bakar” (Fuel rich mixture) pada mesin bensin, saat awal kendaraan distarter atau berkendara jarak pendek. Air dan bahan bakar adalah kombinasi efektif dalam menghancurkan komponen aditif oli mesin. Selanjutnya zat kontaminan ini membentuk lumpur dan lapisan kerak tipis keras dan permanen di dinding silinder .
Nah, pada kondisi berkendara “normal Service”, air dalam oli mesin cenderung menguap lewat PCV (positive cranck Ventilation) atau bahan bakar berlebih bisa menguap lewat knalpot, karena kondisi suhu optimal mesin saat berjalan jarak jauh. Sebaliknya , pada kondisi “Severe Service”, air dalam oli mesin tidak memungkinkan keluar dari mesin, karena mesin kendaraan belum mencapai suhu optimal, pada saat kondisi lalu lintas sering macet atau berkendara pada jarak pendek (stop and go driving). Begitu pula halnya dengan bahan bakar yang tidak terbakar, akan menyusup masuk mengikis lapisan oli di silinder , yang akhirnya bercampur dengan air dan oli dalam mesin.
Makanya para ahli pelumas biasanya memberikan rekomendasi, agar mempercepat penggantian oli mesin untuk kendaraan yang sering dipakai pada kondisi “Severe Service”. Misalnya, untuk cara “Normal Service” penggantian olinya direkomendasikan sejauh 10.000 km, maka untuk cara berkendara “Severe Service” olinya sudah mesti diganti pada jarak 5.000-7000 km .



















