Duh.. salah ngisi BBM?

Print Friendly, PDF & Email

Duh.. salah ngisi  Bahan bakar        ke dalam tangki kendaraan!!!

 Pernah mengalami kejadian seperti ini, dimana saat  berada di pom bensin, petugas pom salah  mengisi bahan bakar ke dalam tangki kendaraan kita. Mobil mesin bensin ternyata salah diisi solar atau sebaliknya mobil disel malah diisi  bensin.

Kemungkinan hal semacam ini bisa saja terjadi disini . Karena mungkin kelalaian petugas atau mungkin juga kesalahan si pemilik kendaraan  yang keliru menempatkan  kendaraannya di tempat pom /dispenser bahan bakar yang bukan seharusnya. Kalau di negara Barat sana, kemungkinan salah mengisi bensin kedalam tangki  kendaraan disel bisa saja terjadi. Tetapi kalau salah mengisi bahan bakar solar ke dalam mobil bensin kecil kemungkinan terjadi. Kenapa? Karena disana diameter keran pompa dispenser  untuk solar dan bensin dibuat berbeda. Diameter keran dispenser untuk bahan bakar solar dibuat lebih besar dibandingkan keran bensin. Wal hasil kalau kemungkinan salah mengisi solar ke dalam mobil bensin mustahil terjadi, karena lubang tangki mobil bensin lebih kecil dibandingkan keran dispenser solar.

Lalu apa yang mesti dilakukan kalau hal ini sudah terlanjur terjadi? Yang pasti kalau sudah terlanjur salah ngisi, baik itu mesin bensin diisi solar atau sebaliknya, langkah terbaik adalah jangan menyalakan mesin kendaraan apalagi menjalankan. Lebih baik mobil  diderek untuk dibawa ke bengkel terdekat untuk dikuras saluran bahan bakar dan tangkinya. Karena kalau kita paksa menyalakan dan menjalankan kendaraan tersebut , efeknya bisa fatal pada mesin kendaraan kita.

Seperti Kita ketahui, desain mesin mobil disel dan bensin memang sengaja dibuat berbeda. Karena memang sistem penyaluran bahan bakar dan prinsip proses pembakarannya berbeda. Mobil bensin mengandalkan pengapian pada busi untuk proses pembakarannya sedangkan mesin disel memakai metoda tekanan pada  proses pembakarannya. Oleh sebab itu bahan bakar yang dipakaipun berbeda. Bahan bakar solar relatif sulit menguap namun mudah menyala saat mendapat tekanan. Kisaran titik didih solar antara 165- 370 C .  Biasa disebut juga sebagai midle distillate (minyak distilat sedang). Termasuk disini adalah avtur dan minyak tanah . Solar didesain untuk mudah menyala saat mendapat tekanan. Karena di mesin disel tidak ada busi yang dipakai untuk memicu terjadinya proses pembakaran. Filosofis ini  yang dipakai sebagai ukuran mutu penyalaan bahan bakar solar yang dikenal sebagai angka Setana . Semakain mudah menyala karena adanya tekanan semakin besar angka Setana solar. Sementara bensin memiliki sifat mudah menguap dengan kisaran titik didih senyawa antara 27 – 210 C. Biasa disebut juga light distillat (minyak distilat ringan). Masuk dalam kategori ini seperti avgas, nafta , spirtus dsb. Bensin didesain untuk tidak mudah menyala saat mendapat tekanan. Karena kalau bensin menyala sendiri karena tekanan, mesin akan ngelitik . Semakin tinggi angka oktan bensin, semakin sulit menyala karena tekanan. Oleh sebab itu pada mesin bensin dibutuhkan busi sebagai pemicu terjadinya penyalaan dan pembakaran bensin.

 Grafik dibawah ini menggambarkan profil KURVA penguapan (distilasi) dari kedua bahan bakar tersebut.

 PROFIL-KURVA-PREMIUM-SOLAR.PDF

Dari grafik terlihat jelas bahwa bensin dan solar memiliki karakteristik penguapan yang jauh berbeda, karena memang kedua bahan bakar ini digunakan pada mesin dengan  prinsip pembakaran yang berbeda .

 Seandainya mobil bensin terisi solar , maka yang terjadi adalah akan terjadi proses pembakaran yang tidak sempurna. Mesin  bensin umumnya didesain memakai  prinsip “proses pembakaran yang  kaya bahan bakar “ ketimbang mesin disel.  Solar umumnya (90%) memiliki titik didih diatas 215 C, sementara bensin sebaliknya, dominan (95%) memiliki senyawa dengan titik didih dibawah 200 C.  Proses pembakaran yang tidak sempurna ini, mengakibatkan sebagian bahan bakar solar tidak terbakar,  terutama senyawa yang memiliki suhu diatas 215 C.  Solar yang tidak terbakar bisa merembes dan mengikis lapisan film oli di dinding silinder. Kalau tidak ada oli di komponen mesin, tentu resikonya bisa ditebak. Komponen tersebut tidak terlindungi dari gesekan dan mempercepat aus .  Selanjutnya solar  akan terus menyusup dan bercampur dengan oli mesin . Oli mesin yang tercampur solar akan dengan cepat menurun efektivitas . Oli mesin yang rusak tidak lagi  berfungsi optimal dalam melindungi komponen mesin kendaraan. Selain itu sifat solar yang mudah menyala  sendiri sebelum pengapian busi, mengakibatkan mesin kasar dan  ngelitik.  Sebagian solar lagi , akan  terbakar membentuk deposit arang diruang bakar. Efek lebih jauh, kekeliruan ini,  akan menurunkan kualitas pembakaran, meningkatkan  deposit arang   dan merusak sistem pengapian di ruang bakar.

Dan seandainya mobil disel terisi bensin, Karena bensin memiliki sifat yang sulit menyala karena tekanan dan juga biasanya proses pembakaran mesin disel didesain pada  kondisi  “Lean fuel” (sedikit bahan bakar),  akan menyebabkan mesin disel  tidak akan meyala atau akan menyala tidak sempurna .

Problem lainnya adalah, bensin akan melenyapkan sifat karaktristik solar sebagai “pelumas”.  Pompa injeksi dan injektor pada mesin disel didesain untuk bahan bakar solar yang memiliki sifat “pelumasan”. Oleh sebab itu , salah mengisi  bensin pada mesin disel berpotensi merusak komponen-komponen diatas dan komponen lainnya di mesin disel.

Makanya pastikan dulu kendaraan Anda pada tempat yang benar saat berada di pom bensin. Agar kejadian ini tidak menimpa Anda …

Comments are closed.

Sorry, no posts matched your criteria.